
Jakarta – Makanan yang dikonsumsi setiap hari ternyata tidak hanya berpengaruh terhadap berat badan. Pilihan makanan juga dapat berkaitan dengan kondisi otak, suasana hati, hingga tingkat energi seseorang. Beberapa jenis makanan bahkan sebaiknya dibatasi karena bisa membuat tubuh terasa lebih lelah dan memicu stres.
Hubungan antara otak dan sistem pencernaan sangat erat. Keduanya saling berkomunikasi melalui hubungan yang dikenal sebagai gut-brain axis. Karena itu, gangguan pada kesehatan usus juga dapat berdampak terhadap kondisi mental dan energi tubuh.
Peradangan yang terjadi akibat pola makan tertentu berpotensi mengganggu fungsi tubuh dan otak. Akibatnya, seseorang dapat lebih mudah merasa lemas, kelelahan, maupun mengalami perubahan suasana hati.
Dikutip dari CNBC Make It, Dr. Uma Naidoo mengungkap beberapa jenis makanan yang sebaiknya tidak dikonsumsi berlebihan karena dapat berkaitan dengan rasa lelah dan stres. Berikut daftarnya:
1. Makanan Olahan
Cookies kemasan, keripik, permen, soda, hingga roti kemasan termasuk makanan yang sebaiknya tidak terlalu sering dikonsumsi. Produk tersebut umumnya mengandung gula tambahan dalam jumlah cukup tinggi, termasuk dalam bentuk sirup jagung tinggi fruktosa.
Asupan gula yang berlebihan dapat memicu proses peradangan. Kondisi tersebut disebut dapat memengaruhi kesehatan otak dan berkaitan dengan masalah seperti kelelahan serta suasana hati yang buruk.
Sebagai gantinya, prioritaskan makanan yang minim proses pengolahan. Buah-buahan, sayuran, ikan, dan sumber protein berkualitas bisa menjadi pilihan yang lebih baik untuk memenuhi kebutuhan nutrisi.
2. Minyak Nabati Olahan
Minyak yang telah melalui proses pengolahan tinggi juga perlu diperhatikan. Beberapa minyak yang banyak digunakan dalam produk makanan berasal dari jagung, kedelai, bunga matahari, dan tanaman lainnya.
Menurut Naidoo, minyak jenis ini dapat mengandung asam lemak omega-6 dalam jumlah tinggi. Asupan omega-6 yang tidak seimbang dengan omega-3 dikaitkan dengan proses inflamasi dan kondisi suasana hati yang kurang baik.
Untuk memasak, minyak zaitun extra virgin atau minyak alpukat dapat menjadi alternatif yang lebih baik.
3. Makanan Tinggi Gula Tambahan
Gula tambahan ternyata tidak hanya ditemukan pada kue, permen, atau makanan pencuci mulut. Berbagai produk yang terasa gurih pun bisa mengandung gula, seperti saus tomat, saus salad, dan makanan kemasan.
Terlalu banyak mengonsumsi gula tambahan dapat menyebabkan asupan gula harian melebihi kebutuhan tubuh. Kondisi tersebut juga dikaitkan dengan peningkatan peradangan serta perubahan suasana hati.
Mengurangi konsumsi makanan kemasan dan lebih sering memilih bahan makanan utuh dapat membantu membatasi asupan gula tambahan. Seiring waktu, kebiasaan ini juga dapat membantu mengurangi keinginan mengonsumsi makanan yang terlalu manis.
4. Makanan yang Digoreng
Gorengan memang sulit ditolak karena teksturnya renyah dan rasanya gurih. Namun, makanan yang dimasak dengan cara digoreng sebaiknya tidak menjadi menu sehari-hari.
Salah satu penelitian pada 2016 yang melibatkan 715 pekerja pabrik menemukan adanya hubungan antara konsumsi makanan yang digoreng dengan risiko mengalami depresi.
Kandungan lemak yang tidak sehat dalam makanan gorengan diduga menjadi salah satu faktor yang dapat memengaruhi suasana hati. Karena itu, konsumsi gorengan sebaiknya dibatasi dan diimbangi dengan makanan yang lebih kaya nutrisi.
5. Pemanis Buatan
Pemanis buatan kini banyak digunakan sebagai pengganti gula, termasuk pada produk yang dipasarkan sebagai makanan atau minuman rendah kalori. Namun, penggunaannya juga perlu diperhatikan.
Sejumlah penelitian menemukan adanya hubungan antara konsumsi pemanis buatan, terutama dari minuman diet, dengan kondisi suasana hati yang lebih buruk.
Beberapa penelitian juga mengindikasikan bahwa pemanis buatan dapat memengaruhi neurotransmiter tertentu yang berperan dalam pengaturan mood.
Pada akhirnya, menjaga pola makan seimbang menjadi salah satu cara untuk mendukung energi dan suasana hati. Batasi makanan ultra-proses, gula tambahan, gorengan, serta produk dengan pemanis buatan, lalu perbanyak makanan utuh seperti sayuran, buah, ikan, dan sumber protein berkualitas.
