
Jakarta – Orong-orong mungkin sudah tidak asing bagi sebagian orang, terutama yang tinggal di daerah dengan lingkungan tanah terbuka. Serangga ini kerap ditemukan di sekitar rumah dan sesekali bisa masuk ke dalam bangunan, terutama pada malam hari. Meski habitat utamanya berada di dalam tanah, kehadirannya sering mengejutkan karena muncul tiba-tiba di dalam rumah.
Orong-orong, yang juga dikenal sebagai jangkrik tanah atau anjing tanah, termasuk dalam famili Gryllotalpidae. Serangga ini hidup dengan cara menggali tanah dan menghabiskan sebagian besar waktunya di bawah permukaan tanah.
Secara fisik, orong-orong memiliki tubuh berbentuk silindris atau memanjang seperti tabung, dengan kepala yang agak runcing serta ditutupi bulu-bulu halus. Menurut Britannica, bentuk tubuh ini mendukung kehidupannya di dalam tanah.
Termasuk Hama di Beberapa Wilayah
Di banyak daerah, orong-orong dianggap sebagai hama karena dapat merusak tanaman. Serangga ini memakan akar, rumput, pucuk tanaman, hingga pakan ternak, sehingga sering menimbulkan kerugian bagi petani maupun pengelola lahan.
Mengapa Orong-orong Bisa Masuk ke Rumah?
Meskipun hidup di dalam tanah, orong-orong juga memiliki kemampuan untuk berpindah tempat. Hewan ini bisa menggali tanah hingga kedalaman sekitar 15–20 cm dan memiliki sayap yang memungkinkan mereka terbang pada malam hari.
Menurut University of Florida, orong-orong sering ditemukan di area seperti halaman rumah, padang rumput, ladang, hingga lapangan golf. Dari lingkungan tersebut, mereka dapat masuk ke dalam rumah secara tidak sengaja.
Salah satu penyebab paling umum adalah kondisi habitat yang terganggu, misalnya saat tanah tergenang air akibat hujan deras. Dalam situasi tersebut, orong-orong akan keluar untuk mencari tempat yang lebih kering.
Selain itu, cahaya lampu di malam hari juga dapat menarik serangga ini masuk ke dalam rumah.
Tidak Berbahaya bagi Manusia
Meski terlihat mengganggu, orong-orong sebenarnya tidak berbahaya bagi manusia. Berdasarkan informasi dari WebMD, serangga ini tidak memiliki kemampuan menyengat.
Namun, dalam beberapa kondisi, orong-orong dapat menggigit jika merasa terancam atau dipegang. Karena itu, disarankan untuk tidak menangkapnya secara langsung.
Bagi dunia pertanian, orong-orong justru dikenal sebagai hama yang cukup merugikan karena kemampuan reproduksinya yang tinggi, dengan telur yang dapat mencapai puluhan butir di dalam tanah.
Cara Pengendalian dan Predator Alaminya
Untuk mengendalikan populasi orong-orong, petani biasanya menggunakan cara alami seperti menanam jenis rumput yang lebih tahan terhadap aktivitas serangga ini. Di alam, orong-orong juga memiliki predator alami seperti burung, ayam, dan tikus yang membantu mengontrol jumlahnya.
Jenis-Jenis Orong-orong
Beberapa spesies orong-orong atau jangkrik tanah yang dikenal antara lain:
1. Jangkrik tanah cokelat (Neoscapteriscus vicinus)
Spesies ini sering menjadi hama utama pada area rumput seperti lapangan golf dan halaman rumah. Ia merusak tanaman dengan cara memakan akar serta membuat terowongan di dalam tanah. Awalnya berasal dari Amerika Selatan dan kemudian menyebar ke Amerika Serikat sejak akhir 1800-an.
2. Jangkrik tanah selatan (Neoscapteriscus borellii)
Jenis ini juga diperkenalkan ke Amerika pada periode yang sama. Berbeda dengan jenis cokelat, spesies ini tidak banyak memakan rumput, tetapi aktivitas menggali terowongannya tetap dapat merusak permukaan tanah.
3. Jangkrik tanah bersayap pendek (Neoscapteriscus abbreviatus)
Spesies ini memiliki sayap pendek sehingga tidak mampu terbang. Tubuhnya berwarna cokelat muda hingga keputihan dengan pola bintik gelap pada bagian tertentu.
