
Jakarta – Matcha semakin populer sebagai pilihan minuman, baik di kafe maupun dibuat sendiri di rumah. Namun, di balik rasa umami dan aroma khasnya, konsumsi matcha secara berlebihan tetap perlu diperhatikan.
Matcha berasal dari daun teh hijau yang digiling hingga menjadi bubuk. Minuman ini mengandung sejumlah senyawa seperti kafein, katekin, dan tanin. Jika dikonsumsi dalam jumlah berlebihan atau oleh orang yang sensitif terhadap kandungannya, matcha dapat menimbulkan sejumlah efek yang tidak diinginkan.
Dikutip dari Verywell Health, berikut beberapa dampak yang perlu diperhatikan ketika mengonsumsi matcha terlalu banyak.
1. Bisa Menimbulkan Reaksi Alergi
Meski secara umum matcha dapat dikonsumsi dengan aman, sebagian orang mungkin mengalami reaksi alergi setelah meminumnya.
Gejalanya dapat berupa kulit kemerahan, ruam, rasa gatal, hingga gangguan pernapasan. Risiko ini terutama perlu diperhatikan oleh orang yang sebelumnya memiliki alergi terhadap teh hijau atau komponen tertentu yang terdapat dalam matcha.
Jika muncul reaksi alergi berat, konsumsi matcha sebaiknya dihentikan dan segera mendapatkan pertolongan medis.
2. Konsumsi Terlalu Panas Perlu Dihindari
Bukan hanya kandungan matcha yang perlu diperhatikan, tetapi juga suhu ketika meminumnya.
Mengonsumsi minuman yang sangat panas secara rutin dapat meningkatkan risiko gangguan pada esofagus atau kerongkongan. Karena itu, matcha sebaiknya tidak diminum dalam kondisi masih sangat panas.
Esofagus merupakan saluran yang menghubungkan tenggorokan dengan lambung. Gangguan pada bagian ini dapat menimbulkan keluhan seperti sulit atau sakit saat menelan, batuk, nyeri di dada atau ulu hati, hingga suara serak.
3. Kafein Bisa Memengaruhi Tekanan Darah
Matcha mengandung kafein yang dapat memberikan efek stimulasi pada sistem saraf. Pada sebagian orang, konsumsi kafein dalam jumlah tinggi dapat menyebabkan jantung berdebar atau tekanan darah meningkat sementara.
Orang yang memiliki kondisi jantung tertentu atau sensitif terhadap kafein perlu lebih berhati-hati dalam menentukan jumlah konsumsi.
Selain itu, kafein juga berpotensi berinteraksi dengan sejumlah obat. Jika sedang menjalani pengobatan, terutama untuk tekanan darah atau penyakit jantung, sebaiknya konsultasikan konsumsi matcha dengan tenaga medis.
4. Berlebihan Bisa Membebani Hati
Konsumsi produk berbahan teh hijau dalam dosis tinggi juga pernah dikaitkan dengan gangguan hati pada sebagian orang.
Risiko tersebut dapat berbeda pada setiap individu dan dapat dipengaruhi oleh kondisi kesehatan maupun jumlah konsumsi. Beberapa tanda yang perlu diwaspadai antara lain nyeri perut, urine berwarna gelap, serta perubahan warna kulit atau bagian putih mata menjadi kekuningan.
Jika gejala tersebut muncul setelah mengonsumsi produk matcha atau teh hijau dalam jumlah tinggi, sebaiknya segera diperiksakan.
5. Asupan Kafein Berlebihan Bisa Memicu Gangguan Saraf
Matcha mengandung kafein dan jumlahnya dapat bervariasi tergantung konsentrasi bubuk yang digunakan. Secara umum, secangkir matcha berukuran sekitar 237 mililiter dapat mengandung sekitar 30-50 miligram kafein.
Jika asupan kafein terlalu tinggi, seseorang dapat mengalami berbagai keluhan seperti gelisah, jantung berdebar, sulit tidur, hingga stimulasi sistem saraf yang berlebihan.
Pada kondisi tertentu, konsumsi kafein dalam jumlah sangat tinggi juga dapat dikaitkan dengan kejang. Risiko ini menjadi perhatian khusus bagi orang yang sangat sensitif terhadap kafein atau memiliki kondisi neurologis tertentu.
Tidak Berarti Harus Menghindari Matcha
Matcha tetap dapat menjadi bagian dari pola makan sehari-hari selama dikonsumsi secara wajar. Yang perlu diperhatikan adalah jumlahnya, konsentrasi bubuk yang digunakan, serta kondisi kesehatan masing-masing orang.
Jika tubuh menunjukkan reaksi yang tidak biasa setelah mengonsumsi matcha, terutama gejala berat seperti kesulitan bernapas, nyeri hebat, atau perubahan kesadaran, jangan mengabaikannya dan segera cari pertolongan medis.
