
Jakarta – Label “sehat” pada kemasan makanan tidak selalu berarti produk tersebut minim proses atau baik jika dikonsumsi terus-menerus. Sejumlah makanan yang populer sebagai pilihan sehat ternyata dapat masuk dalam kategori ultra-processed food (UPF).
Makanan ultra proses merupakan produk yang telah melalui berbagai tahapan pengolahan industri dan biasanya mengandung sejumlah bahan tambahan. Beberapa di antaranya berupa gula, garam, minyak, pati, lemak, hingga minyak terhidrogenasi.
Penambahan bahan-bahan tersebut dapat membuat makanan memiliki kandungan kalori lebih tinggi dibandingkan makanan utuh atau bahan pangan yang hanya mengalami sedikit pengolahan.
Jika dikonsumsi terlalu sering dalam jumlah berlebihan, makanan ultra proses dikaitkan dengan berbagai masalah kesehatan. Risikonya antara lain kenaikan berat badan, depresi, penyakit jantung, hingga kanker.
Karena itu, penting untuk tidak hanya melihat klaim kesehatan pada suatu produk. Kandungan dan tingkat pemrosesannya juga perlu diperhatikan.
Dikutip dari Everyday Health, berikut beberapa makanan yang kerap dianggap sehat tetapi ternyata dapat tergolong ultra proses.
1. Protein Shake
Protein shake cukup populer di kalangan orang yang ingin memenuhi kebutuhan protein, menurunkan berat badan, atau membangun massa otot. Minuman ini biasanya dibuat dengan mencampurkan bubuk protein dan air.
Bagi sebagian orang, protein shake memang praktis, terutama ketika kebutuhan protein sulit dipenuhi melalui makanan sehari-hari. Namun, tidak semua produk protein shake memiliki komposisi yang sederhana.
Sejumlah produk menggunakan bahan seperti isolat protein dan pemanis buatan. Kandungan tambahan tersebut pada sebagian orang dapat memicu keluhan seperti kembung atau sakit perut.
Selain itu, protein shake tidak selalu memberikan vitamin, mineral, dan serat sebanyak sumber protein yang berasal dari makanan utuh.
2. Yogurt dengan Beragam Rasa
Yogurt murni, termasuk Greek yogurt, umumnya dibuat dari susu yang difermentasi menggunakan kultur bakteri hidup. Proses fermentasi tersebut mengubah laktosa menjadi asam laktat sehingga menghasilkan rasa asam dan tekstur khas yogurt.
Masalahnya, produk yogurt dengan berbagai pilihan rasa yang banyak ditemukan di pasaran biasanya memiliki komposisi yang lebih kompleks.
Produk tersebut dapat mengandung gula tambahan dalam jumlah cukup tinggi, sementara kandungan proteinnya belum tentu sebanyak yogurt polos. Beberapa produk juga menggunakan perasa buatan, pengental, serta bahan penstabil.
Karena tambahan tersebut, yogurt rasa dapat masuk kategori makanan ultra proses. Jika dikonsumsi berlebihan dalam jangka panjang, asupan gula dan kalori yang tinggi dapat berkontribusi terhadap kenaikan berat badan, diabetes tipe 2, dan tekanan darah tinggi.
3. Camilan Bebas Gluten
Makanan bebas gluten sering dianggap sebagai pilihan yang lebih sehat, terutama bagi orang yang sedang menjalani pola makan bebas gluten. Namun, keterangan “gluten-free” pada kemasan tidak otomatis membuat sebuah produk menjadi makanan bernutrisi.
Keripik, kue, dan camilan bebas gluten umumnya menggunakan pati olahan, seperti tepung tapioka atau tepung beras. Beberapa produk juga membutuhkan bahan penstabil untuk mendapatkan tekstur yang menyerupai makanan berbahan gluten.
Ahli Zimmerman menyarankan agar camilan kemasan tersebut tidak selalu menjadi pilihan utama. Makanan alami yang memang bebas gluten dapat menjadi alternatif, misalnya chickpeas panggang atau keripik beras merah.
4. Saus Salad Kemasan
Salad memang identik dengan makanan sehat karena mengandung berbagai jenis sayuran. Namun, pilihan saus yang digunakan juga perlu diperhatikan.
Saus salad kemasan sering dipilih karena lebih praktis. Sayangnya, menurut ahli Elizabeth Ward, bahkan produk yang mencantumkan label “organik” dapat mengandung bahan tambahan seperti pengemulsi, pengawet, gula tambahan, dan perasa buatan.
Akibatnya, saus tersebut bisa membuat salad memiliki kandungan gula dan natrium yang lebih tinggi. Jika asupan natrium berlebihan dilakukan terus-menerus, hal tersebut dapat meningkatkan tekanan darah dan berkaitan dengan risiko sindrom metabolik.
5. Keripik Sayuran
Keripik sayuran juga sering dipasarkan sebagai alternatif camilan yang lebih sehat. Namun, nama “keripik sayur” tidak selalu berarti produk tersebut dibuat dari sayuran dalam jumlah banyak.
Menurut ahli Zenker, sebagian besar produk keripik sayuran justru dapat menggunakan tepung kentang, minyak, garam, perasa, dan hanya sedikit bubuk sayuran. Bubuk tersebut terkadang lebih berfungsi memberikan warna daripada menjadi sumber nutrisi utama.
Bagi yang menginginkan camilan renyah, Zenker menyarankan popcorn yang dibuat dari biji jagung polos dan dipanggang menggunakan air fryer. Pilihan tersebut berbeda dari popcorn instan dengan berbagai tambahan rasa.
Pada akhirnya, makanan yang terlihat sehat tetap perlu diperiksa komposisinya. Membaca daftar bahan dan informasi nutrisi dapat membantu mengetahui apakah suatu produk memang mendekati makanan utuh atau justru sudah melalui banyak proses pengolahan.
